|
|
 |
| |
| |
|
|
Kekeringan di Blora makin parah
|
|
|
|
18 Nopember 2009
|
|
|
|
Anda pembaca berita ke 44
|
|
|
BLORA (wawasandigital.com 18/11/09) - Masuk Minggu ketiga November 2009, banyak sumur warga, waduk dan embung di Kabupaten Blora masih mengalami kekeringan. Bahkan kondisi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat juga masih ngenes, karena air baku tidak ada.
Hasil pantauan Wawasan, Selasa (17/11), warga di desadesa Kecamatan Tunjungan, Kota Blora, Ngawen, Banjarejo, Jepon, Randublatung dan desa-desa di kecamatan lainnya mengaku kekurangan air, kendati wilayahnya telah beberapa kali diguyur hujan.
Suntoro, warga Desa Muraharjo, Kunduran, Blora, mengaku sumurnya tetap kering, sehinggadia harus membeli air satu truk tangki seharga Rp 170.000. Air itu diambil dari sumber di Bentolo. Sementara warga di Desa Klokah di kecamatan yang sama, membeli air dengan cara kelompok, rata-rata lima hari sekali.
Sutrisno, penduduk Karangmojo, Kecamatan Kunduran, Blora, juga masih harus mencari air malam hari untuk menghindari antrean. Jarak rumahnya dengan sumur di dekat Masjid Kota Kunduran sejauh dua kilometer.
Parah lagi dialami warga Desa Sukorame, Kecamatan Tunjungan, mereka harus jalan dan bersepeda onthel sejauh sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan air di dalam Kota Blora, terbanyak antri di sumur masjid besar.
Bentolo
Sekilas sawah-sawah/tegalan penduduk memang mulai tampak agak hijau oleh jagung hibrida, serta jenis lain, itu karena dipupuk, disiram dan 2-3 kali turun hujan, namun sumur warga masih banyak yang kekeringan.
Pemkab selama ni hanya mengandalkan cara konvensional, droping air memakai tangki mobil. Sejauh ini tidak ada solusi dan cara mengatasinya, misalkan menarik pipa-pipa air dari sumber yang ada.
Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Eko Budhi Resetiawan, membenarkan sering menerima masukan dari masyarakat di wilayah Blora barat untuk dapat dilayani air dengan pipanisasi. Diakuinya kekeringan tahun ini terparah dan terpanjang dalam 10 tahun terakhir.
Menurutnya, untuk memenuhi harapan itu memang bisa, yakni dengan mengeksploitasi stok air baku melimpah sepanjang tahun di Waduk Bentolo, Todanan. Sumber lainnya seperti Waduk Tempuran, Waduk Greneng dan sungai-sungai kering sulit diandalkan.
\\\\\\\"Kami sudah memberi masukan ke pemkab, namun sejauh ini sudah mulai melangkah membuat desein dan proposal membangun jaringan pipanisasi dari Bentolo,\\\\\\\" kata Kokok (Eko Budi Resitiawan).
Dengan dikelolanya Bentolo, lanjut dia, selain masyarakat Kota Blora bakal cukup air, desa-desa Blora barat bisa terlayani. Hanya saja untuk mewujudkannya, perlu dana Rp 22 miliar sampai Rp 25 miliar.
|
| |
| |
|
|
|
| |
|
|
|
 |
|