|
|
 |
| |
| |
|
|
20 Daerah Rawan Banjir dan Longsor
|
|
|
|
20 Nopember 2009
|
|
|
|
Anda pembaca berita ke 116
|
|
|
SURABAYA (seputar-indonesia.com 20/11/09) – Pemprov Jatim mulai melakukan langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam saat musim hujan tahun ini.
Sebagai langkah awal,Pemprov telah memetakan titik-titik rawan bencana di seluruh daerah.Diharapkan, pemetaan ini bisa menjadi patokan dalam melakukan antisipasi. Berdasarkan pendataan, 20 kabupaten/ kota rawan dilanda banjir dan tanah longsor.Ke-20 daerah itu, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo,Madiun,Nganjuk,Kediri, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik,Mojokerto,Pasuruan, Lumajang,dan Jember.
Kemudian Situbondo,Bondowoso, dan Banyuwangi.Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Jatim Mustofa Chamal Basya meminta seluruh daerah untuk waspada bencana. ”Kami sudah mengirimkan surat edaran pada semua camat yang ada di daerah rawan untuk waspada banjir,” terang Mustofa, kemarin.
Mustofa yang juga Ketua Harian Tim Kondisi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Jatim ini menambahkan, pihaknya telah menelusuri dan menginventarisir semua tanggul yang ada di sungai Brantas dan Bengawan Solo yang punya banyak anak sungai. ”Setelah Agustus lalu kita telusuri, tanggul-tanggul yang kritis dan jebol pada banjir sebelumnya langsung diperbaiki,” sambungnya.
Pentingnya langkah tanggap darurat ini, lanjut dia, karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar,mencapai sekitar Rp5 triliun per tahun. Mustofa menekankan pada daerah-daerah di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo untuk benar-benar serius mela-kukan langkah-langkah antisipasi mengingat setiap tahun umumnya banjir selalu terjadi.Di Jatim,DAS Bengawan Solo dan anak sungainya mencakup Madiun, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Berdasarkan pemetaan, di Bojonegoro, daerah rawan banjir meliputi 27 kecamatan dan 15.
Gubernur Jatim Soekarwo menegaskan, Pemprov Jatim telah melakukan berbagai antisipasi dalam menghadapi bencana bajir. Di antaranya dengan melakukan pengerukan plangwood DAS Sungai Bengawan Solo. ”Tahun ini kita lakukan di sepanjang Madiun-Ponorogo, terutama di Kecamatan Kanor,” ujarnya seusai paripurna pengesahan APBD Jatim 2010 di kantor DPRD Jatim kemarin.
Menurut Soekarwo, pengerukan dilakukan guna meningkatkan daya tampung sungai. Sebelumnya, kapasitas sungai hanya 360 m3 per detik. Dengan pengerukan ini, kapasitas daya tampung sungai meningkat menjadi 680 m3 perdetik. Soekarwo mengakui pengerukan itu memang tidak menyelesaikan persoalan banjir sepenuhnya.Namun dia menyatakan upaya ini dapat meminimalisir dampak banjir yang yang lebih besar.
”Ini ikhtiar kita dalam penanganan banjir di sepanjang DAS sungai Bengawan Solo,”kata dia. Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menambahkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa curah hujan tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu akibat gejala El Nino. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya banjir seperti tahun lalu relatif kecil.
”Walaupun begitu,berdasarkan laporan Balai Besar Sungai Brantas, kemungkinan banjir masih tetap ada.Karena itu,kami meminta masyarakat untuk tetap waspada,”tutur Gus Ipul. Pemprov Jatim sendiri menyiapkan anggaran sebesar Rp6 miliar sampai Rp7 miliar.Anggaran tersebut akan dipakai guna pelaksanaan program antisipasi dan penanganan bencana banjir serta tanah longsor.
”Selain dari Pemprov anggaran juga akan diback up oleh pemerintah kabupaten/ kota setempat, dan juga pemerintah pusat,”lanjut dia. Anggota DPRD Jatim Ahmad Nawardi minta Pemprov benar-benar serius dalam menangani masalah banjir. Untuk itu pemprov diminta tidak hanya gembar-gembor minta masyarakat tanggap bencana banjir lewat surat edaran. Sementara itu, prakirawan BMKG Juanda Surabaya Joko Sulistyo mengatakan,musim hujan di Jatim secara umum bervariasi.
”Surabaya diprediksi akan memasuki musim hujan mulai Desember dekade 1-3.Sekarang Surabaya memasuki musim peralihan atau pancaroba,”terangnya tadi malam. Menurut dia, untuk wilayah Lumajang lebih dulu memasuki musim hujan. ”Sejak Oktober lalu Lumajang sudah masuk musim hujan.Cuma Lumajang barat daya. Tapi kalau untuk Jatim keseluruhan, musim hujan akan datang mulai November-Desember.
Tapi sebagian besar musim hujan datang pada Desember,”pungkasnya Di sisi lain, Pemprov Jatim berencana menuntaskan pembangunan waduk Jipang. Pembangunan waduk diperkirakan akan memakan biaya sebesar USD300 miliar.Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf mengatakan, pembangunan waduk bertujuan untuk menampung air Bengawan Solo saat musim hujan.Dengan demikian bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahun dapat teratasi.
|
| |
| |
|
|
|
| |
|
|
|
 |
|